Konsep Terpadu Barsa City Yogyakarta

Konsep Terpadu Barsa City Yogyakarta

Barsa City, sebuah proyek terbaru dari Ciputra Group untuk menangkap ranumnya pasar properti di Yogyakarta. Barsa City melengkapi proyek mereka sebelumnya, CitraSun Garden dan CitraGrand Mutiara.

Barsa City menawarkan 2 tower, yaitu Tower Berkeley dan Tower Cornell dengan total 779 unit dan untuk memenuhi permintaan hunian vertikal di Yogyakarta. Untuk tahap pertama, yaitu Tower Cornell mempunyai total 346 unit yang terdiri dari Type Studio (SGA 22,76 m2), Tyle Deluxe (SGA 30,56 m2), Type 1 BR (SGA 38,72 m2)dan Type 2 BR (SGA 49,34 m2).

“Kami mengambil lokasi strategis di Jalan Laksda Adisutjipto km 7. Barsa City akan menggunakan lahan seluas 1,7 hektare,” ujar HOD Marketing Barca City, Sunarsih.

Barsa City akan menjadi sebuah kawasan terpadu Apartemen, Shophouse, Shopping Gallery dan Hotel. Barsa City diproyeksikan dapat menjadi destinasi shopping, bisnis maupun hang out anak muda dan menjadi pusat lifestyle termodern dan icon Yogyakarta.

Ciputra menerapkan penjualan dengan sistem NUP (Nomor Urut Pemesanan) sebesar Rp5 juta per unit bersifat refundable dan mulai dihitung pada 13 November 2017. Harga perdana yang ditawarkan mulai Rp400 jutaan dengan cara bayar cash, KPA dengan uang muka 36% bisa diangsur 36x, dan angsuran mulai Rp5 jutaan per bulan.

“Untuk pembangunan akan dimulai pada 2019 dengan proses pembangunan 3 tahun,” ungkap General Manager Barsa City Mushollin.

 

Sumber : http://malioboro.news/ini-konsep-terpadu-barsa-city-yogyakarta/

Investasi Rp 200 Miliar, Ciputra Kembangkan Mix Used di Jogjakarta

Investasi Rp 200 Miliar, Ciputra Kembangkan Mix Used di Jogjakarta

Meskipun ekonomi masih melambat namun Ciputra Group terus melakukan ekspansi. Kali ini salah satu raksasa properti Indonesia ini akan mengembangkan kawasan mix used Barsa City seluas 1,7 hektar di Jogjakarta dengan investasi awal Rp 200 miliar.

Andy Soegihardjo, associate director PT Ciputra Development Tbk mengatakan, Jogjakarta dinilai memiliki prospek yang cukup bagus. Selain sebagai kota pendidikan ternama di Indonesia, juga sebagai kota wisata kelas dunia.

“Ini proyek high-rise kami yang pertama di Jogjakarta. Kami akan kembangkan bertahap,” ujar Andy Soegihardjo usai acara Product Knowledge (PK) di Ciputra World Surabaya, Kamis (9/11).

Andy yakin Barsa City akan sukses di Kota Gudeg tersebut. Pasalnya, pihaknya sebelumnya sudah mengembangkan kawasan perumahan di sana. Apalagi, lokasi Barsa City cukup strategis di jalan utama Jogjakarta–Solo, dekat pusat kota dan Bandara Adi Sucipto serta dikelilingi banyak kampus.

Dikatakan dia, mix-used Barsa City akan dibangun beberapa bangunan komersial. Selain dua tower apartemen juga ada hotel bintang empat, shopping house dan shop gallery. Kedepan, kawasan ini akan menjadi ikon baru di Jogjakarta.

“Barsa City kami konsep akan menjadi tempat hangout dan lifestyle baru bagi anak-anak muda di Jogja. Karena itu, target market kami adalah generasi millennia,” tambahnya.

Mushollin, general manager Barsa City menambahkan, apartemen akan dikembangkan dua tower. Namun tahap pertama dibangun satu tower dulu. Sebanyak 342 unit mulai kemarin ditawarkan untuk customer. Ada empat tipe yakni studio, deluxe, 1 dan 2 bedroom.

“Kami pasarkan melalui NUP dengan harga mulai Rp 400 juta. Kami berharap dari Surabaya akan menyerap  sepertiga dari total yang kami tawarkan. Kami juga akan roadshow ke Jakarta minggu depan,” ujar Mushollin.

Sunarsih, HOD Barsa City mengatakan, investasi apartemen di Jogjakarta cukup menjanjikan. Selain capital gain-nya cukup tinggi juga kalau disewakan harganya juga menggiurkan. Saat ini rata-rata sewa apartemen di Jogjakarta sekitar Rp 3,5 juta per bulan. “Itu sewa untuk tipe studio. Sehingga hasil sewanya saja sudah bisa untuk mencicil,” kata Sunarsih. (fix/hen)

 

sumber : https://www.jawapos.com/radarsurabaya/read/2017/11/10/25705/investasi-rp-200-miliar-ciputra-kembangkan-mix-used-di-jogjakarta

Generasi Milenial Topang Penjualan Hunian Vertikal di Yogyakarta

Kalangan pengembang, meyakini bahwa banyak penjualan properti khususnya hunian vertikal di pusat perkotaan bakal ditopang oleh generasi milenial. Kreativitas yang dilakukan kalangan generasi milenial, yakni masyarakat yang berusia 18 hingga 34 tahun bakal menjadi pasar yang sangat dominan pada sepuluh tahun ke depan.

Ketua Real Estat Indonesia DPD DIY Rama Adyaksa Pradipta mengatakan, kemacetan sudah mulai melanda kota-kota besar termasuk Kota Yogyakarta, dan masyarakat modern bakal mencari hunian yang berdekatan dengan tempat kerja mereka. “Saat ini pun sudah mulai terasa, bagaimana 10 tahun ke depan? Berapa waktu yang harus dihabiskan pengendara akibat macet. Belum lagi kerepotan mencari parkir. Itu sebabnya hunian vertikal yang ada di pusat-pusat bisnis bakal menjadi incaran,” paparnya, Senin (13/11/2017).

Rama melanjutkan, saat ini terdapat fenomena dari generasi milenial yang memilih menunda pembelian atau tinggal di rumah. Menurutnya, mereka lebih senang tinggal di apartemen yang praktis dan memiliki nilai jual yang terus merangkak naik. “Mereka mulai terbiasa dengan apartemen yang berada pada lokasi-lokasi strategis sehingga mendukung mobilitas generasi milenial yang tinggi. Bandingkan dengan perumahan dengan harga terjangkau ada di kawasan yang jauh dari pusat kota,” tuturnya.

Bahkan kecenderungannya, kata dia, generasi milenial tidak terlalu memikirkan kendaraan pribadi seperti mobil untuk mendukung aktivitas. Dia bilang, ada kecenderungan beralih pada transportasi publik untuk menghemat biaya. “Saat ini pun generasi milenial adalah pengguna dominan transportasi berbasis online. Dan pemerintah berusaha mengejarnya dengan menyediakan transportasi publik yang memadai,” ujarnya.

Tidak heran jika banyak apartemen, terutama di kawasan strategis, menawarkan kemudahan akses untuk penghuninya. Selain itu, generasi milenial merupakan generasi haus teknologi. Mereka terbiasa hidup praktis sehingga tak bisa jauh sambungan internet.

“Itulah sebabnya lokasi apartemen akan berhubungan erat dengan kepentingan seseorang. Di luar pertumbuhan nilai investasi, pemilihan lokasi apartemen dipertimbangkan yang paling dekat dengan kantor atau kampus,” paparnya. Tantangan pengembang saat ini, kata Rama adalah mendirikan hunian vertikal itu, dekat dengan akses transportasi masal sehingga mendukung keseharian aktifitas mereka yang menuntut ketepatan waktu.

“Untuk mewujudkan hunian vertikal yang terkoneksi dengan transportasi masal, kami perlu bersinergi dengan Pemda,” imbuhnya.

General Manager Barsa City Yogyakarta Mushollin mengaku setuju dan optimis pasar generasi milenial bakal menjadi penopang penjualan apartemen. Dengan begitu, apartemen di pusat kota dengan infrastruktur dan teknologi baik menjadi pilihan mereka.

Keoptimisan itu yang hendak dibuktikan oleh Ciputra Group dengam merilis proyek apartemen perdana mereka di Kota Gudeg, Barca City Yogyakarta di kawasan padat, Laksda Adisucipto km 7 Janti, yang mengambil tagline: Urban Millenial Living.

“Tantangan bagi pengembang hunian vertikal tentu saja harus mampu memenuhi tuntutan generasi milenial yang akan menjadi pangsa pasar properti saat ini. Jika hal ini mampu dipenuhi maka pasar apartemen akan tetap seksi,” tambahnya.

Sumber : http://jogja.tribunnews.com/2017/11/13/generasi-milenial-topang-penjualan-hunian-vertikal-di-yogyakarta

 

Properti Semakin Sehat, Penjualan Mulai Melesat

Properti Semakin Sehat, Penjualan Mulai Melesat

Memasuki semester II-2017, ada tanda industri properti mulai bergairah kembali. Ini terekam dari penjualan pemasaran atawa marketing sales dari sejumlah pengembang bergerak naik. Pun dari sisi penyaluran kredit perumahan (KPR) menunjukkan tren peningkatan.

Bank Tabungan Negara (BTN) misalnya, mencatatkan pertumbuhan KPR subsidi dan non subsidi melampau target perusahaan ini. Jumlah penyaluran unit KPR selama Agustus 2017 mencapai 22.666 unit atau melesat 44,9% dibandingkan bulan Juli. Sedangkan nilai transaksi melonjak 41,6% menjadi Rp 3,65 triliun.

Indaryanto, Direktur Keuangan PT PP Properti Tbk (PPRO), melihat, pertumbuhan penyaluran KPR menjadi bukti bahwa bisnis properti sudah semakin menggeliat. Salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan adalah penurunan suku bunga bank.

Kebijakan perpajakan lewat program pengampunan pahjak alias tax amnesty kemungkinan hasilnya sudah mulai masuk ke sektor properti. Sebab banyak konsumen PPRO yang membeli unit properti dalam jumlah besar. “Beberapa konsumen ada yang membeli satu lantai masing-masing,” katanya kepada KONTAN, Kamis (14/9).

Direktur PT Ciputra Development Tbk Harun Hajadi menyebutkan, faktor pendorong penjualan perumahan salah satunya adalah ketersediaan pembiayaan. Umumnya yang memenuhi syarat KPR adalah para pekerja formal. “Bagi mereka yang berada di jalur nonformal akan sulit sekali mengakses pembiayaan,” ujarnya kepada KONTAN, kemarin.

Hingga Agustus 2017, CTRA telah mengantongi prapenjualan sekitar Rp 5 triliun dari target tahun ini sebesar Rp 8,5 triliun. “Kalau proyeksi yang kami buat, tahun ini tumbuh 14,8%.,” terang Harun.

Sedangkan PPRO berhasil mengantongi marketing sales Rp 2,09 triliun selama Januari-Agustus 2017. Angka ini melesat lebih 88% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni Rp 1,21 triliun.

Olivia Surodjo, Direktur Keuangan PT Metropolitand Land Tbk (MTLA), mengakui penjualan properti memang selalu meningkat saat memasuki semester II saban tahun. Puncaknya, pertumbuhan akan terjadi terutama di kuartal IV. “Marketing sales sampai Agustussekitar Rp 835 miliar,” ungkapnya.

Sedangkan PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) meraih marketing sales hingga Rp 3 triliun sampai Agustus atau 66,6% dari target tahun ini yang senilai Rp 4,5 triliun. “Ini meningkat sekitar 15% dari periode yang sama tahun lalu,” kata Indra Antono, Wakil Direktur Utama APLN.

Indra melihat penjualan properti sudah semakin membaik. Pada semester I-2017, APLN baru mengantongi marketing sales Rp 2,3 triliun. Artinya, selama Juli dan Agustus, perusahaan ini berhasil meraup sekitar Rp 700 miliar dari prapenjualan.

 

Sumber : http://m.kontan.co.id/news/properti-semakin-sehat-penjualan-mulai-melesat